Home Artikel Berlari Lebih Cepat, Bermanhaj Lebih Kuat

Berlari Lebih Cepat, Bermanhaj Lebih Kuat

123
0

*) Akhmad Ali Subur, S.E.

Perkembangan kondisi lingkungan yang dihadapi organisasi, baik lingkungan internal maupun eksternal yang kompleks dan cepat sekaligus sulit diprediksi (unpredictionable) menuntut organisasi mengambil sikap yang cepat sekaligus tepat. Kalau organisasi gagal dan gagap dalam merespon situasi yang dihadapi, sama artinya organisasi sedang bermain api. Merespon cepat artinya tidak buang-buang waktu, peka dan sigap mengantisipasi potensi masalah. Karena semakin lambat bergerak maka semakin tinggi tingkat kompleksitas masalah, memadamkan api saat kecil jauh lebih mudah dibanding saat sudah membesar.

Merespon tepat artinya harus mampu mengidentifikasi jenis dan karakter potensi masalah yang ada, sekaligus menentukan alternatif solusinya secara tepat. Pada saat yang sama organisasi juga harus kreatif dan inovatif menyusun program dan menentukan strategi sukses eksekusinya. Program tidak lagi disusun asal banyak, asal kelihatan bagus, asal disepakati, asal sesuai keinginan dst. Sebaliknya jangan pula program disusun dengan nuansa pesimis, takut dan kurang percaya diri. Over expectation dan over thinking atau sebaliknya inferior dan pesimis adalah dua pilihan yang sama tidak baiknya.

Berlari Lebih Cepat (Representasi sisi Profesional)

Sekarang dan ke depan program kerja harus disusun jauh lebih matang. Pastikan program yang diangkat memenuhi setidaknya unsur relevan dan realistis (sesuai kebutuhan dan kapasitas sumber daya), terukur (ada indikator dan target yang jelas), skala prioritas (ada program prioritas dan program unggulan) serta ditindaklanjuti dengan strategi sukses eksekusinya. Menyusun program yang baik memang tidak mudah, tapi mengeksekusinya secara baik juga bukan perkara mudah.

Mengingat program kerja adalah turunan dari sasaran strategis dan rencana strategis (renstra) organisasi, maka idealnya sebelum menyusun program kerja organisasi telah menyusun terlebih dulu rencana strategisnya. Harus tergambar dulu secara jelas dan terang di benak semua pengurus dan tim yang terlibat gambaran organisasi seperti apa sebenarnya yang mau dicapai dan akan diperjuangkan di masa periode kepengurusan. Future map (peta masa depan) organisasi yang masih abstrak dalam bentuk visi harus diterjemahkan melalui sasaran strategis, indikator kinerja, serta target yg ditetapkan agar membumi. Semua dilakukan agar organisasi dapat bekerja lebih efektif, fokus dan on the track (pada jalurnya) serta terukur, sehingga penilaian kinerja organisasi lebih mudah dilakukan.

Setelah rancang bangun dan blue print organisasi dibuat dan diderivasi hingga tataran program kerja, selanjutnya harus diperhatikan strategi untuk sukses mengeksekusinya. Salah satu daya dukung (support system) berjalannya organisasi menuju visi adalah dengan sukses 3 Si (SentralisaSi, StandardisaSi, dan IntegraSi sistemik). Secara singkat Sentralisasi bisa didefinisikan sebagai upaya untuk memastikan terwujudnya pola kebijakan dan pertanggungjawaban yang tersentral (terpusat) dalam semua aspek, mulai dari aspek keuangan, SDI, amal usaha, sistem dan sumber daya lainnya. Selain untuk memudahkan organisasi dalam mengkapitalisasi sumber daya yang dimiliki dan mengefektifkan pendayagunaannya, sentralisasi juga menjadi bagian dari pengejawantahan konsep imamah jamaah dalam konteks manajemen dan tata kelola organisasi.

Sementara itu, agar semua program, amal usaha dan ritus kegiatan yang dilakukan organisasi memiliki indikator dan kualifikasi yang jelas maka harus dilakukan upaya standardisasi. Cakupan standardisasi sangat luas, diantaranya meliputi aspek sistem,manajemen, kualifikasi dan kompetensi SDI, tata kelola keuangan, pola relasi dan interaksi kelembagaan dst. Standardisasi akan membantu organisasi lebih mudah mengevaluasi dan mengkomparasi dirinya terhadap standar pengelolaan organisasi yang profesional dan sehat.

Sedangkan integrasi sistemik bisa didefinisikan sebagai sebuah langkah untuk mengintegrasikan, mengkolaborasikan dan mensinergikan semua potensi sumber daya, elemen dan unsur organisasi lainnya agar dapat memberi daya dukung kemajuan bersama secara optimal. Agar upaya integrasi ini bisa berjalan efektif maka perlu dilakukan secara sistemik atau tersistem; ada polanya, ada ritme dan iramanya, ada indikatornya, ada target dan ukurannya, ada langkah strategisnya dst.

Bermanhaj Lebih Kuat (Representasi Profetik)

Sentralisasi, standardisasi dan integrasi sistemik merupakan derivasi dari aspek-aspek yang bersifat teknis strategis, atau terkait dengan cara, model dan bentuk (syaqliyah) atau secara filosofi termasuk dalam aspek permukaan dan kulit (eksoteris). Sebagai sebuah cara/ strategi maka aspek-aspek tersebut tiap saat bisa mengalami perubahan dan penyempurnaan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan situasi/ jaman. Layaknya makhluk hidup (organisme) maka disamping memiliki unsur yang bersifat jismiyyah/ fisik tersebut, organisasi juga memiliki unsur-unsur yang bersifat  ruhiyyah/ esoteris/ metafisika/ prinsip (mabadi’) yakni jatidiri organisasi, dalam hal ini manhaj.

Organisasi yang dipacu untuk berlari lebih cepat lewat ekspansi amal usaha dan indikator lainnya tanpa disertai dengan penguatan dari sisi ruhiyyah/ jati diri maka cepat atau lambat akan bernasib seperti sprinter (pelari cepat) yang dibiarkan berlari dengan mata tertutup kain hitam, makin cepat makin beresiko. Sehingga upaya Konsolidasi manhaj baik dari sisi literasi (baca dan pahami), internalisasi (menjadi sistem kesadaran) hingga implementasi (amaliyah) adalah harga mati. Upaya penguatan manhaj secara konsep sudah taken for granted (tinggal terima begitu saja) dan dilaksanakan secara serius dan optimal, mulai dari kegiatan pembinaan, dauroh, halaqah, GNH sampai amanah penugasan.

Disamping penguatan manhaj, hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah konsolidasi organisasi. Dibutuhkan upaya dan rekayasa struktur organisasi dan kepemimpinan yang efektif yang dapat membawa organisasi mampu menjadi ‘rumah’ bagi tumbuh kembang potensi profetik dan profesional semua anggota dan kader. Kepemimpinan organisasi harus diisi oleh orang-orang yang tidak hanya punya kompetensi dan dedikasi tapi juga para ideolog yang mampu membawa performa terbaik organisasi sebagai al-haraqah al-jihadiyah al-Islamiyah. Para pemimpin dan kader organisasi harus berupaya kuat menjadi manusia pembelajar yang ideolog, siap berjuang, berkorban bahkan sampai pada tataran martir.

Dan pada akhirnya satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah perlu dilakukannya konsolidasi wawasan. Semua kader organisasi harus memiliki semangat untuk melakukan upaya penguatan kualitas literasi dan wawasan agar konsep pemikiran, pengalaman dan kemampuan nalar dapat tumbuh dan berkembang secara memadai. Para kader dan pemimpinnya, harus memiliki wawasan yang memadai tentang Tuhan, baik itu melalui pendekatan teologis, filosofis maupun gnosis (irfani/ hikmah isyraqiyah). Selanjutnya para kader juga harus mampu ‘membaca’ al Qur’an secara mendalam agar mampu memasuki horison wawasan tanpa batas, baik terkait dengan wawasan tentang diri manusia (al insan)  maupun alam.

Akumulusi dari tiga konsolidasi tersebut bila dilakukan secara efektif dan optimal akan menjadi energi pendorong yang luar biasa sekaligus penyelamat bagi perjalanan organisasi di masa depan. Sehingga berlari lebih cepat, bermanhaj lebih kuat, lebih jauh akan mengantarkan pada jalan selamat. Wallahu a’lam.

*) Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah : Pidato resmi pembukaan rakerda serentak DPD Hidayatullah se Jawa Tengah